PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI HADITS
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Ulumul Hadits
Dosen Pengampu : Ahmad Zaini, Lc. MA
Disusun oleh :
Ulwiyatun Niamah
Yashinta Jauharotul Farida
Muhammad Alexander IB
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut
petunjuk alqur’an, nabi Muhammad SAW selain dinyatakan sebagai Rasulullah juga
dinyatakan sebagai manusia biasa. Dengan perkataan lain, nabi Muhammad
disamping berstatus sebagai rasu, beliau juga berstatus sebagai manusia. Dalam
kapasitas sebagai manusia, beliau diakui oleh Umat Islam dan non Islam sebagai
kepala negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim, dan pribadi manusia
biasa.
Berkaitan
dengan status Nabi SAW diatas, maka mengkaji hadits dengan melihat status Nabi
dan konteks sebuah hadits pada saat sebuah hadist disabdakan serta mengetahui
bentuk- bentuk matan hadits merupakan upaya yang sangat penting dalam menangkap
makna hadits secara utuh. Oleh sebab itu, beberapa pendekatan seperti
pendekatan historis, sosiologis, sosio-historis, antropologis dan psikologis
dalam pemahaman hadits sangat diperlukan dalam kerangka menemukan keutuhan
makna hadits dan mencapai kesempurnaan kandungan maknanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana cara
memahami hadits nabi secara eksklusif?
2.
Pendekatan apa
sajakah yang digunakan dalam memahami hadits nabi?
3.
Bagaimana
aplikasi dari pendekatan – pendekatan tersebut dalam memahami hadits nabi?
PEMBAHASAN
A.
Pendekatan
Bahasa
Persoalan
pemahaman makna hadits tidak dapat dipisahkan dari penelitian matan. Pemahaman
hadits dengan beberapa macam pendekatan ternyata memang diperlukan. Salah
satunya adalah pendekatan bahasa. Hal tersebut karena bahasa arab yang
digunakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan berbagai hadits selalu
dalam susunan yang baik dan benar.
Pendekatan
bahasa dalam memahami hadits dilakukan apabila dalam sebuah matan hadits
terdapat aspek- aspek keindahan bahasa (balaghoh) yang memungkinkan mengandung
pengertian majazi (metafora) sehingga berbeda dengan pengertian haqiqi
حد ثنا خلا د بن
يحي قال حد ثنا سفيا ن عن ابي بردةبن عبدالله بن ابي بردةعن جده عن
ابي موسي عن
النبي صلي الله عليه وسلم قال ان المؤ من للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
وشبك اصا بعه
(رواه مسلم)
Artinya;
“
sesungguhnya orang yang beriman satu memperkokoh terhadap bagian lainnya, dan
jari jemarinya berjalinan.”( H.R. Bukhari dari Abu Musa)
حدثنا الحسان بن
علي الخلال غير واحدقالوا حدثنا ابو اسامة عن يريدبن ابي بردة عن ابي موسي الاشعري
قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم المؤمن للمؤ من كالبنيان يشد بعضه بعضا
(رواه الترمذي)
Artinya;
“
sesungguhnya orang yang beriman terhadap orang yang beriman lainnya ibarat
bangunan bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya.”(H.R. at
turmudzi dari Abu Musa Al asy’ari)
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa hadits Nabi sebagai suatu ucapan, perbuatan,
taqrir, dan hal ihwal, memiliki unsure keindahan bahasa yang tersimpul dalam
susunan redaksinya yang mengandung unsure balaghoh yang merupakan titik pangkal
penilaian keindahan bahasa.
B.
Pendekatan
Historis
Pendekatan Historis dalam memahami hadits adalah memahami hadits
dengan memperhatikan dan mengkaji situasi atau peristiwa sejarah yang terkait
dengan latar belakang munculnya hadits. Pemahaman hadist dengan pendekatan
historis dapat dilihat misalnya dlam memahami hadits tentang hokum rajam,
sebagai salah satu produk hokum islam yang sampai saat ini masih dianggap perlu
untuk diberlakukan menurut sebagian fuqaha. Penetapan hokum rajam hanya
dijumpai dari hadits yang diberlakukan bagi pelaku zina muhsan. Contoh hadisnya
ialah:
حدثنا
اسما عيل بن عبدالله حدثني مالك عن نافع عن عبدالله بن عمررضي الله عنهما انه قال
ان اليهودجاؤا الي رسول الله صلي الله عليه وسلم ما تجدون في التوراة في شاءن الرجم
فقالوا تفضحهم ويجلدون قال عبدالله بن سلام كذبتم ان فيها الرجم فاء توا بالتوراة
فنشروها فوضع احدهم يده علي اية الرجم فقرآما قبلها وما بعد ها فقال له عبدالله بن
سلام ارفع يدك فرفع يده فاذا فيها اية الرجم قالوا صدق يا محمد فيها اية الرجم
فامر بهما رسول الله صلي الله عليه وو سلم فرجم (رواه ابخاري)
“Telah menceritakan kepadaku (Imam al Bukhori) Isma’il ibn
Abdullah. Ia telah mengatakan bahwa Malik telah menceritakan kepadaku yang ia
terima dari Nafi; dan Nafi’ ini menerima dari Abdullah ibn ‘umar r.a. yang
berkata bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW. Sambil
menceritakan (masalah yang mereka hadapi) bahwa seorang laki-laki dan perempuan
dari kalangan mereka telah melakukan perbuatan zina. Kemudian Rasulullah
menanyakan kepada mereka;” Apa yang kamu temukan dalam kitab Taurat mengenai
hokum rajam?”, Mereka menjawab; “kami mempermalukan dan mendera mereka”. Kemudian
Abdullah ibn Salam berkata:” Kamu semua berdusta, sebab kitab Taurat itu ada
hokum rajam. Ambillah kitab Taurat!”, Dan Mereka menggelar kitab Taurat untuk
dibaca, tetapi salah satu diantara mereka meletakkan telapak tangannya tepat
diatas ayat rajam dan dan hanya dibaca ayat sebelum dan sesudahnya saja,
Kemudian Abdullah ibn Salam berkata lagi: “Angkat tanganmu”. Lalu orang itu
mengangkat tangannya dan saat itu tampaklah ayat rajam. Selanjutnya mereka
mengatakan:”Benar ya Muhammad bahwa dalam kitab Taurat ada ayat rajam. Kemudian
Rasulullah memerintahkan untuk melakukan hokum rajam tersebut…..”(H.R.Bukhori)
C.
Pendekatan
Sosiologis
Yang dimaksud dengan pendekatan sosiologis dalam pemahaman hadits
Nabi adalah memahami hadis nabi dengan memperhatikan dan mengkaji
keterkaitannya dengan kondisi dan situasi masyarakat pada saat munculnya
hadits.
Contoh
hadisnya adalah sebagai berikut:
حد
ثنا احمدبن يونس حدد ثنا عا صم بن محمد دسمعت ابي يقول قال ابن عمر قال رسول الله
صلي الله عليه وسلم لا يزال هذا الامرفي قريش ما بقي منهم اثنان ن (رواه البخاري)
حد
ثنا وكيع حد ثنا الاعمش عن سهل ابي الاسد عن بكير الجزري عن انس قال كنا في بيت
رجل من الانصار فجاء النبي صلي الله عليه وسلم حتي وقف فاخذ بعضادة الباب فقال
الائمة من قريشش ولهم عليكم حق ولكم مثل ذلك ما اذا اسرحموا رحموا واذا حكموا
عدلوا واذا عاهدوا وفوا فمن لم يفعل ذلك منهم فعليه لعنة الله والملائكة والناس اجمعين (رواه
احمد)
Jumhur ulama memahami hadis ini secara tekstual, artinya persyaratan
keturunan Quraisy memang menjadu suatu keharusan bagi orang yang menjadi
khalifah. Hal tersebut berangkat dari peristiwa terpilihnya Abu Bakar sebagai
khalifah di Saqifah Bani Sa’idah.
Dari pendekatan sosiologis terhadap hadis diatas dapat diketahui
bahwa keturunan Quraisy tidak dimaksudkan sebagai syarat mutlak bagi jabatan
kepala negara yang ditetapkan oleh Nabi, sehingga mengikat kepada umat secara
abadi. Akan tetapi, justru hadis tersebut menunjukkan bahwa syarat Quraisy
adalah syarat keutamaan (Afdlaliyah) yang ditunjukkan melalui keunggulan
solidaritas kelompok dan kapasitas kepemimpinannya. Jadi hadis-hadis tentang
Quraisy diatas hanya menyebut sebagian kelompok dari orang-orang yang berhak
menjadi khalifah, karena dibalik teks hadis(Melalui telaah sosiologis), ada
dimensi keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang Quraisy, bukan tentang
keabsahan pemimpin pada quraisy.
D.
Pendekatan
sosio-historis
Pemahaman hadis dengan pendekatan sosio-historis adalah memahami
hadis-hadis dengan melihat sejarah social dan setting social pada saat dan
menjelang hadis tersebut disabdakan.
Pendekatan
sosio-historis ini dapat diterapkan, misalnya dalam memahami hadis tentang
larangan perempuan menjadi pemimpin. Bunyi matan hadistersebut adalah sebagai
berikut:
لن
يفلح قوم ولوا امرهم امراة (رواه البخارييي)
Jumhur ulama memahami hadis kepemimpinan politik perempuan secara
tekstual. Mereka berpendapat bahwa berdasarkan petunjuk hadis tersebut
pengangkatan perempuan menjadi kepala negara, hakim pengadilan, dan berbagai jabatan
politis lainnya, dilarang dalam agama. Selanjutnya mereka menyatakan bahwa
perempuan menurut syara’ hanya diberi tanggung jawab untuk menjaga harta
suaminya. Oleh karenanya, al khattabi misalnya, mengatakan bahwa seorang
perempuan tidak sah menjadi khalifah.
Namun jika keadaan perempuan sudah dihormati dan mempunyai kewibaan
serta memiliki kualifikasi, maka memaksakan pemahaman hadis secara tekstual
merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
E.
Pendekatan
Antropologis
Pemahaman hadis dengan pendekatan antropologis adalah memahami
hadis dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang
dalam masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat pada saat
hadis tersebut disabdakan.
Jika
rasulullah memberi contoh pemahaman dengan menggunakan pendekatan antropologis,
maka sudah tentu dalam memahami hadis beliau juga diperlukan pendekatan serupa.
Sebagai contoh memahami hadis nabi dengan pendekatan antropologis adalah
pemahaman hadis tentang para pelukis yang disiksa. Hadis Nabi menyatakan:
عن
عبدالله بن مسعود قال سمعت النبي صلي الله عليه وسلم يقول ان اشد النا س عذا با
عندالله يوم القيا مة المصورون (رواه البخا ري و مسلم و احمد)
“ Dari Abdullah
bin Mas’ud berkata:” saya mendengar Nabi SAW bersabda: “ sesungguhnya
orang-orang yang menerima siksaan paling dahsyat dihadapan Allah pada hari
kiamat kelak ialah para pelukis.
Banyak hadis
Nabi yang menjelaskan larangan melukis makhluk yang bernyawa karena kelak di
hari kiamat dituntut untuk memberi nyawa kepada lukisannya tersebut. Ada juga
yang menyebut bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah yang didalamnya ada
lukisan bernyawa.
F.
Pendekatan psikologis
Yang dimaksud dengan pendekatan psikologis dalam memahami hadis
dengan memperhatikan kondisi psikologis Nabi SAW dan masyarakat yang dihadapi
Nabi ketika hadis tersebut disabdakan.
Contoh:
عن
ابي موسي رضي الله عنه قال قالوا يا رسول الله اي الا سلام افضل؟ قال من سلم
المسلون من لسا نه ويده (رواه الخا ري و غيره)
Mereka para
sahabat bertanya: Ya Rasulullah, amalan islam yang manakah yang lebih utama?”
beliau menjawab: “ yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan
mulutnya dan tangannya.
عن
ابي هريرة ان رسول الله صلي الله عليه و سلم سئل اي العمل افضل فقال ايما ن بالله
ورسله قيل ثم ماذا قال جها د في سبيل االله قيل ثم ماذا قال حج مبرور (رواه
البخاري و غيره)
“Bahwa
rasulullah SAW ditanya (oleh seseorang): Amal apakah yang paling utama?” beliau
menjawab “ beriman kepada Allah dan RasulNya. “ ( beliau) ditanya lagi: “
kemudian apa lagi,” Beliau menjawab, “ haji yang mabrur”.
Perbedaan materi jawaban tersebut sesungguhnya bertolak dari
kondisi psikologis orang yang bertanya dan kondisi psikologi nabi. Jawaban yang
diberikan nabi sangat memperhatikan kondisi kejiwaan orang yang bertanya. Oleh
karenanya, jawaban itu sebenarnya sesuai dengan kondisi keadaan psiklogis sang
penanya. Pada saat sang penanya adalah orang yang sering berbuat bohong dan
lainnya, maka Nabi dalam kpasitas sebagai rasul ingin membimbing dan
menasihatinya agar ia menjaga mulut dan tangannya. Pada waktu sang penanya
adalah orang yang sibuk terus menerus mengurus dunia, ketika waktu shalat tiba,
ia tidak berhenti dari pekerjaan, maka amal yang paling utama bagi penanya ini
menurut Nabi adalah sholat pada waktunya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Beberapa pendekatan dalam memahami hadis
yaitu:
1.
Pendekatan
bahasa dalam memahami hadits dilakukan apabila dalam sebuah matan hadits
terdapat aspek- aspek keindahan bahasa (balaghoh) yang memungkinkan mengandung
pengertian majazi (metafora) sehingga berbeda dengan pengertian haqiqi
2.
Pendekatan
Historis dalam memahami hadits adalah memahami hadits dengan memperhatikan dan
mengkaji situasi atau peristiwa sejarah yang terkait dengan latar belakang
munculnya hadits.
3.
pendekatan
sosiologis dalam pemahaman hadits Nabi adalah memahami hadis nabi dengan
memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan kondisi dan situasi masyarakat
pada saat munculnya hadits.
4.
pendekatan
sosio-historis adalah memahami hadis-hadis dengan melihat sejarah social dan
setting social pada saat dan menjelang hadis tersebut disabdakan.
5.
pendekatan
antropologis adalah memahami hadis dengan cara melihat wujud praktek keagamaan
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang
dalam masyarakat pada saat hadis tersebut disabdakan.
6.
pendekatan
psikologis dalam memahami hadis dengan memperhatikan kondisi psikologis Nabi
SAW dan masyarakat yang dihadapi Nabi ketika hadis tersebut disabdakan
DAFTAR PUSTAKA
Ali,
Nizar. Memahami Hadis Nabi( metode dan pendekatan).2001. Yogyakarta
: CESaD YPI Al Rahmah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar