Minggu, 02 Juni 2013

pendekatan dalam memahami hadits


PENDEKATAN DALAM MEMAHAMI HADITS
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Ulumul Hadits
Dosen Pengampu : Ahmad Zaini, Lc. MA



Disusun oleh :
Ulwiyatun Niamah
Yashinta Jauharotul Farida
Muhammad Alexander IB


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut petunjuk alqur’an, nabi Muhammad SAW selain dinyatakan sebagai Rasulullah juga dinyatakan sebagai manusia biasa. Dengan perkataan lain, nabi Muhammad disamping berstatus sebagai rasu, beliau juga berstatus sebagai manusia. Dalam kapasitas sebagai manusia, beliau diakui oleh Umat Islam dan non Islam sebagai kepala negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim, dan pribadi manusia biasa.
Berkaitan dengan status Nabi SAW diatas, maka mengkaji hadits dengan melihat status Nabi dan konteks sebuah hadits pada saat sebuah hadist disabdakan serta mengetahui bentuk- bentuk matan hadits merupakan upaya yang sangat penting dalam menangkap makna hadits secara utuh. Oleh sebab itu, beberapa pendekatan seperti pendekatan historis, sosiologis, sosio-historis, antropologis dan psikologis dalam pemahaman hadits sangat diperlukan dalam kerangka menemukan keutuhan makna hadits dan mencapai kesempurnaan kandungan maknanya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara memahami hadits nabi secara eksklusif?
2.      Pendekatan apa sajakah yang digunakan dalam memahami hadits nabi?
3.      Bagaimana aplikasi dari pendekatan – pendekatan tersebut dalam memahami hadits nabi?
PEMBAHASAN
A.    Pendekatan Bahasa
Persoalan pemahaman makna hadits tidak dapat dipisahkan dari penelitian matan. Pemahaman hadits dengan beberapa macam pendekatan ternyata memang diperlukan. Salah satunya adalah pendekatan bahasa. Hal tersebut karena bahasa arab yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan berbagai hadits selalu dalam susunan yang baik dan benar.
Pendekatan bahasa dalam memahami hadits dilakukan apabila dalam sebuah matan hadits terdapat aspek- aspek keindahan bahasa (balaghoh) yang memungkinkan mengandung pengertian majazi (metafora) sehingga berbeda dengan pengertian haqiqi
حد ثنا خلا د بن يحي قال حد ثنا سفيا ن عن ابي بردةبن عبدالله بن ابي بردةعن جده عن
ابي موسي عن النبي صلي الله عليه وسلم قال ان المؤ من للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
وشبك اصا بعه (رواه مسلم)
Artinya;
“ sesungguhnya orang yang beriman satu memperkokoh terhadap bagian lainnya, dan jari jemarinya berjalinan.”( H.R. Bukhari dari Abu Musa)
حدثنا الحسان بن علي الخلال غير واحدقالوا حدثنا ابو اسامة عن يريدبن ابي بردة عن ابي موسي الاشعري قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم المؤمن للمؤ من كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه الترمذي)
Artinya;
“ sesungguhnya orang yang beriman terhadap orang yang beriman lainnya ibarat bangunan bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya.”(H.R. at turmudzi dari Abu Musa Al asy’ari)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hadits Nabi sebagai suatu ucapan, perbuatan, taqrir, dan hal ihwal, memiliki unsure keindahan bahasa yang tersimpul dalam susunan redaksinya yang mengandung unsure balaghoh yang merupakan titik pangkal penilaian keindahan bahasa.
B.     Pendekatan Historis
Pendekatan Historis dalam memahami hadits adalah memahami hadits dengan memperhatikan dan mengkaji situasi atau peristiwa sejarah yang terkait dengan latar belakang munculnya hadits. Pemahaman hadist dengan pendekatan historis dapat dilihat misalnya dlam memahami hadits tentang hokum rajam, sebagai salah satu produk hokum islam yang sampai saat ini masih dianggap perlu untuk diberlakukan menurut sebagian fuqaha. Penetapan hokum rajam hanya dijumpai dari hadits yang diberlakukan bagi pelaku zina muhsan. Contoh hadisnya ialah:
حدثنا اسما عيل بن عبدالله حدثني مالك عن نافع عن عبدالله بن عمررضي الله عنهما انه قال ان اليهودجاؤا الي رسول الله صلي الله عليه وسلم ما تجدون في التوراة في شاءن الرجم فقالوا تفضحهم ويجلدون قال عبدالله بن سلام كذبتم ان فيها الرجم فاء توا بالتوراة فنشروها فوضع احدهم يده علي اية الرجم فقرآما قبلها وما بعد ها فقال له عبدالله بن سلام ارفع يدك فرفع يده فاذا فيها اية الرجم قالوا صدق يا محمد فيها اية الرجم فامر بهما رسول الله صلي الله عليه وو سلم فرجم (رواه ابخاري)
           “Telah menceritakan kepadaku (Imam al Bukhori) Isma’il ibn Abdullah. Ia telah mengatakan bahwa Malik telah menceritakan kepadaku yang ia terima dari Nafi; dan Nafi’ ini menerima dari Abdullah ibn ‘umar r.a. yang berkata bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW. Sambil menceritakan (masalah yang mereka hadapi) bahwa seorang laki-laki dan perempuan dari kalangan mereka telah melakukan perbuatan zina. Kemudian Rasulullah menanyakan kepada mereka;” Apa yang kamu temukan dalam kitab Taurat mengenai hokum rajam?”, Mereka menjawab; “kami mempermalukan dan mendera mereka”. Kemudian Abdullah ibn Salam berkata:” Kamu semua berdusta, sebab kitab Taurat itu ada hokum rajam. Ambillah kitab Taurat!”, Dan Mereka menggelar kitab Taurat untuk dibaca, tetapi salah satu diantara mereka meletakkan telapak tangannya tepat diatas ayat rajam dan dan hanya dibaca ayat sebelum dan sesudahnya saja, Kemudian Abdullah ibn Salam berkata lagi: “Angkat tanganmu”. Lalu orang itu mengangkat tangannya dan saat itu tampaklah ayat rajam. Selanjutnya mereka mengatakan:”Benar ya Muhammad bahwa dalam kitab Taurat ada ayat rajam. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk melakukan hokum rajam tersebut…..”(H.R.Bukhori)
C.    Pendekatan Sosiologis
Yang dimaksud dengan pendekatan sosiologis dalam pemahaman hadits Nabi adalah memahami hadis nabi dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan kondisi dan situasi masyarakat pada saat munculnya hadits.
Contoh hadisnya adalah sebagai berikut:
حد ثنا احمدبن يونس حدد ثنا عا صم بن محمد دسمعت ابي يقول قال ابن عمر قال رسول الله صلي الله عليه وسلم لا يزال هذا الامرفي قريش ما بقي منهم اثنان ن (رواه البخاري)

حد ثنا وكيع حد ثنا الاعمش عن سهل ابي الاسد عن بكير الجزري عن انس قال كنا في بيت رجل من الانصار فجاء النبي صلي الله عليه وسلم حتي وقف فاخذ بعضادة الباب فقال الائمة من قريشش ولهم عليكم حق ولكم مثل ذلك ما اذا اسرحموا رحموا واذا حكموا عدلوا واذا عاهدوا وفوا فمن لم يفعل ذلك منهم فعليه لعنة الله والملائكة والناس اجمعين (رواه احمد)
Jumhur ulama memahami hadis ini secara tekstual, artinya persyaratan keturunan Quraisy memang menjadu suatu keharusan bagi orang yang menjadi khalifah. Hal tersebut berangkat dari peristiwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah.
Dari pendekatan sosiologis terhadap hadis diatas dapat diketahui bahwa keturunan Quraisy tidak dimaksudkan sebagai syarat mutlak bagi jabatan kepala negara yang ditetapkan oleh Nabi, sehingga mengikat kepada umat secara abadi. Akan tetapi, justru hadis tersebut menunjukkan bahwa syarat Quraisy adalah syarat keutamaan (Afdlaliyah) yang ditunjukkan melalui keunggulan solidaritas kelompok dan kapasitas kepemimpinannya. Jadi hadis-hadis tentang Quraisy diatas hanya menyebut sebagian kelompok dari orang-orang yang berhak menjadi khalifah, karena dibalik teks hadis(Melalui telaah sosiologis), ada dimensi keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang Quraisy, bukan tentang keabsahan pemimpin pada quraisy.
D.    Pendekatan sosio-historis
Pemahaman hadis dengan pendekatan sosio-historis adalah memahami hadis-hadis dengan melihat sejarah social dan setting social pada saat dan menjelang hadis tersebut disabdakan.
Pendekatan sosio-historis ini dapat diterapkan, misalnya dalam memahami hadis tentang larangan perempuan menjadi pemimpin. Bunyi matan hadistersebut adalah sebagai berikut:
لن يفلح قوم ولوا امرهم امراة (رواه البخارييي)
Jumhur ulama memahami hadis kepemimpinan politik perempuan secara tekstual. Mereka berpendapat bahwa berdasarkan petunjuk hadis tersebut pengangkatan perempuan menjadi kepala negara, hakim pengadilan, dan berbagai jabatan politis lainnya, dilarang dalam agama. Selanjutnya mereka menyatakan bahwa perempuan menurut syara’ hanya diberi tanggung jawab untuk menjaga harta suaminya. Oleh karenanya, al khattabi misalnya, mengatakan bahwa seorang perempuan tidak sah menjadi khalifah.
Namun jika keadaan perempuan sudah dihormati dan mempunyai kewibaan serta memiliki kualifikasi, maka memaksakan pemahaman hadis secara tekstual merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
E.     Pendekatan Antropologis
Pemahaman hadis dengan pendekatan antropologis adalah memahami hadis dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat pada saat hadis tersebut disabdakan.
Jika rasulullah memberi contoh pemahaman dengan menggunakan pendekatan antropologis, maka sudah tentu dalam memahami hadis beliau juga diperlukan pendekatan serupa. Sebagai contoh memahami hadis nabi dengan pendekatan antropologis adalah pemahaman hadis tentang para pelukis yang disiksa. Hadis Nabi menyatakan:
عن عبدالله بن مسعود قال سمعت النبي صلي الله عليه وسلم يقول ان اشد النا س عذا با عندالله يوم القيا مة المصورون (رواه البخا ري و مسلم و احمد)
“ Dari Abdullah bin Mas’ud berkata:” saya mendengar Nabi SAW bersabda: “ sesungguhnya orang-orang yang menerima siksaan paling dahsyat dihadapan Allah pada hari kiamat kelak ialah para pelukis.
Banyak hadis Nabi yang menjelaskan larangan melukis makhluk yang bernyawa karena kelak di hari kiamat dituntut untuk memberi nyawa kepada lukisannya tersebut. Ada juga yang menyebut bahwa malaikat tidak akan masuk ke rumah yang didalamnya ada lukisan bernyawa.

F.     Pendekatan psikologis
Yang dimaksud dengan pendekatan psikologis dalam memahami hadis dengan memperhatikan kondisi psikologis Nabi SAW dan masyarakat yang dihadapi Nabi ketika hadis tersebut disabdakan.
Contoh:
عن ابي موسي رضي الله عنه قال قالوا يا رسول الله اي الا سلام افضل؟ قال من سلم المسلون من لسا نه ويده (رواه الخا ري و غيره)
Mereka para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, amalan islam yang manakah yang lebih utama?” beliau menjawab: “ yaitu orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan mulutnya dan tangannya.
عن ابي هريرة ان رسول الله صلي الله عليه و سلم سئل اي العمل افضل فقال ايما ن بالله ورسله قيل ثم ماذا قال جها د في سبيل االله قيل ثم ماذا قال حج مبرور (رواه البخاري و غيره)
“Bahwa rasulullah SAW ditanya (oleh seseorang): Amal apakah yang paling utama?” beliau menjawab “ beriman kepada Allah dan RasulNya. “ ( beliau) ditanya lagi: “ kemudian apa lagi,” Beliau menjawab, “ haji yang mabrur”.
Perbedaan materi jawaban tersebut sesungguhnya bertolak dari kondisi psikologis orang yang bertanya dan kondisi psikologi nabi. Jawaban yang diberikan nabi sangat memperhatikan kondisi kejiwaan orang yang bertanya. Oleh karenanya, jawaban itu sebenarnya sesuai dengan kondisi keadaan psiklogis sang penanya. Pada saat sang penanya adalah orang yang sering berbuat bohong dan lainnya, maka Nabi dalam kpasitas sebagai rasul ingin membimbing dan menasihatinya agar ia menjaga mulut dan tangannya. Pada waktu sang penanya adalah orang yang sibuk terus menerus mengurus dunia, ketika waktu shalat tiba, ia tidak berhenti dari pekerjaan, maka amal yang paling utama bagi penanya ini menurut Nabi adalah sholat pada waktunya.






PENUTUP
A.    Kesimpulan
    Beberapa pendekatan dalam memahami hadis yaitu:
1.      Pendekatan bahasa dalam memahami hadits dilakukan apabila dalam sebuah matan hadits terdapat aspek- aspek keindahan bahasa (balaghoh) yang memungkinkan mengandung pengertian majazi (metafora) sehingga berbeda dengan pengertian haqiqi
2.      Pendekatan Historis dalam memahami hadits adalah memahami hadits dengan memperhatikan dan mengkaji situasi atau peristiwa sejarah yang terkait dengan latar belakang munculnya hadits.
3.      pendekatan sosiologis dalam pemahaman hadits Nabi adalah memahami hadis nabi dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan kondisi dan situasi masyarakat pada saat munculnya hadits.
4.      pendekatan sosio-historis adalah memahami hadis-hadis dengan melihat sejarah social dan setting social pada saat dan menjelang hadis tersebut disabdakan.
5.      pendekatan antropologis adalah memahami hadis dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat pada saat hadis tersebut disabdakan.
6.      pendekatan psikologis dalam memahami hadis dengan memperhatikan kondisi psikologis Nabi SAW dan masyarakat yang dihadapi Nabi ketika hadis tersebut disabdakan



DAFTAR PUSTAKA
Ali, Nizar. Memahami Hadis Nabi( metode dan pendekatan).2001. Yogyakarta : CESaD YPI Al Rahmah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar